Senin, 10 Maret 2014

Dadaisme

Berikut adalah sekilas tentang aliran Seni Dadaisme. Disusun dan dipresentasikan oleh rekan-rekan saya dikelas dengan sedikit polesan oleh saya. hehe
Kredit untuk: Gideon Firstian A P, Ridwan, Badru Ilahi, Samudi, Noviky Tangka  dan  Marzoan

DADAISME

Sejarah Dadaisme
Sekitar tahun 1916, tepatnya dibulan Februari dan pada saat itu Perang Dunia I (1914-1918) sedang berkecamuk, yang melibatkan banyak negara dan juga memakan banyak korban, baik itu karena senjata api, bom ataupun gas beracun, dan disaat itu banyak mayat – mayat yang bergelimpangan, orang – orang yang luka parah dan bahkan orang yang terganggu mentalnya serta kota yang luluh lantak. Kondisi ini menjadi trauma yang sangat berat dan berkepanjangan bagi orang – orang yang selamat. Disisi lain di swiss yang disebut sebagai negara netral menjadi salah satu tempat yang aman bagi orang – orang untuk mengungsi dari berbagai kalangan, ditempat itu ada juga seorang budayawan yaitu Tristan Tzara, dia adalah seorang penyair yang berasal dari Rumania, ada juga Hugo ball dan Richard Hulsenbeck mereka yaitu seorang penulis dari jerman serta ada pula seorang pematung yaitu Hans Arp dia berasal dari Perancis, mereka pada waktu itu mendirikan sebuah kabaret yang diberi nama cabaret Voltaire disebauh bar yang bernama Meierei, tempat yang disewa oleh Hugo Ball ini dijadikan dan dirancang menjadi sebuah “pusat hiburan artistik” dan dijadikannya tempat untuk berkumpulnya para seniman seperti pelukis, penyair, penyanyi, penari yang berasal dari berbagai negara yang terkena perang, di tempat itu mereka menunjukan kreatifitas mereka masing – masing.
Diperkumpulan yang diadakan itu, mereka ingin membentuk sebuah kelompok internasional, dan dengan sikap mereka yang memang semuanya humorik dan konvensional mereka mendirikanlah sebuah kelompok tersebut, kelompok tersebut beri nama DADA dan mereka menyebut dirinya dadais yang berarti anggota dari gerakan seni Dadaisme. Para Dadais dalam membuat sebuah kelompok menunjukan bahwa adanya sikap nihilistic pada mereka atau bisa dikatakan bahwa mereka tidak memilih atau menjadikan salah satu dari sekian banyak aliran seni untuk menjadi panduan atau menjadikan dirinya sebagai bagian dari seni yang sudah ada, bisa juga dikatakan mereka adalah golput (golongan putih). Namun pada hakikatnya sikap nihilistik itu dipersentasikan untuk menolak semua hukum – hukum seni yang sudah ada dan mapan, serta sikap nihilistik itu diwujudkan sebagai sebuah protes terhadap nilai – nilai yang sudah tidak menentu akibat atau dampak dari perang dunia yang terjadi pada saat itu. Para dadais dan disamping perbedaan latar belakang para Dadais, namun mereka mempunyai nasib dan cita – cita dalam kesenian yang sama serta perasaan khawatir atas terjadinya guncangan dalam masyarakat akibat mekanisasi dan perkembangan teknologi – terutama mesin pembantai dalam
Perang yang meluas pada saat itu. Sikap protes para Dadaisme tunjukan dalam bentuk karya seni yang sinis, banal, nihilistik, intiutif dan emotif, parodik, aneh, humorik, anti-kaidah tradisonal, melepaskan diridari otomatisme berkesenian, dan bahkan menjadi Antiseni  (Ades dalam Stangos. 1995: passim dan Atkins. 1993:86).  Dalam hal ini bila memang ingin melacak orang yang pertama kali melambungkan atau mencetuskan istilah dada sebagai suatu mazhab atau aliran kesenian, akan sangatlah sulit untuk menemukannya (Rita Widagdo, 1982:27).
Dadaisme sebagai gerakan seni berakhir secara resmi dengan sebuah pengadilan canda (mock trial) yang pada saat itu dipimpin oleh Andre Breton terhadap penulis Maurice Barres pada tanggal 13 Mei 1921 dai Hall of Learned Societies. Hal tersebut mendapatkan penentangan dari traza yang dimana kita tahu bahwa Traza itu adalah salah satu dari pendiri aliran Dadaisme. Sekitar setahun kemudian Breton yaitu yang mengketuai pengadilan dadasime tersebut mengadakan pengumuman secara kongres internasional kaum intelektual dan seniman dengan tema “arah spirit seni modern” yang melibatkan aliran seni lain antaranya kubisme, futurisme dan dadasime. Pengumuman tersebut menjelaskan bahwa Dadasime sudah berakhir dan sudah menjadi bagian dari sejarah seni modern. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1924, Breton mendeklarasikan gerakan seni baru bernama “Surealisme” yang menjadi revolusi kesadaran. Para Dadaisme Perancis selain Traza segera berbondong – bondong mengikuti aliran seni baru tersebut.

Pengertian Dadaisme
Gerakan dadaisme adalah aliran pemberontak yang menolak cara berpikir “seni adalah sesuatu yang tinggi, yang mahal, yang serius, complicated dan ekslusif”. Mereka menolak keadaan frame berpikir tersebut karena seni semacam itu adalah milik kaum menengah ke atas yang memiliki estetika semu.
Menurut Soedarso Sp dalam bukunya yang berjudul Sejarah Perkembangan Seni menyebutkan bahwa nama DADA ini diambil dengan secara sepontan atau dengan cara langsung dari sebuah kamus Bahasa Jerman – Perancis dan yang kebetulan mempunyai arti “Bahasa anak – anak untuk menyebutkan kedamaian”. (Soedarso Sp, 1990:115). Sementara menurut RA Murianto dalam bukunya Tinjauan Seni, bahwa arti kata Dada itu dalam Bahasa Perancis yaitu berarti mainan anak – anak yang berbentuk seperti kuda – kudaan atau kata pertama yang diucapkan seorang bayi (RA Murianto, 1984:78). Ada pun menurut Trizan Tzara yaitu dia seorang Dadais terkemuka menyatakan secara lebih rinci tentang risalah Manifesto Dada pada tahun 1918, (http://wikisource.org/wiki/Dada_Manifesto) bahwa kata Dada tersebut memiliki banyak sekali arti seperti nama lembu suci kaum negro di Kroo; ada juga arti lain dalam beberapa daerah di Italia yaitu panggilan ibu dan bentuk balok; serta ungkapan tanda setuju di Rumania dan Rusia.

Biografi Tokoh Dadaise :
1.      Hans Arp
Lahir    : Straburg, tahun 1886
Wafat  : Basel, 7 juli 1966
Hans Arp adalah salah satu orang yang sangat penting dalam sejarah aliran seni Dadasime, Arp menemukan seni baru yang dalam pembuatannya didasarkan pada prinsip – prinsip kebetulan, otomatisme dan perluasan alam bawah sadar. Pada tahun 1950 Arp menerima komisi publik yang besar, dia diminta untuk membuat desain relief monumental di gedung UNESCO di paris. Pada Venice Biennale, patung Hans Arp itu dianugerahi " Grand Prize for Sculpture " pada tahun 1954 dan Sembilan tahun kemudian tepatnya pada tahun 1963 ia menerima " Grand Prix des Arts " di Paris.  Pada 7 juli 1966, Arp meninggal karena serangan jantung, Arp dianggap sebagai salah satu penemu besar pada abad ke – 20 dan meninggalkan artistic penting.

2.      Richard Huelsenbeck
Lahir    : jerman, sekitar tahun 1892
Wafat  : Swiss, pada tahun 1974
Richard dibesarkan di Dortmund, Westphalia. Ayahnya adalah seorang ahli kimia namun dia mempunyai cita – cita yang sangat beda jauh dari ayahnya, dia memilih ingin menjadi seorang penulis yang pada saat itu terpengaruhi oleh puisi dan prosa dari penyair romantis Heinrich Heine, namun yang ironinya dia dianggap oleh masyarakat mau menirunya. Ketika usianya Sembilan belas tahun dia pergi ke Munich dimana ia mencari obat atas apa yang dituduhkan itu sebelum dia memulai studi sastra jerman dan sejarah seni. Di Munich dia bertemu dengan Hugo Ball yaitu seorang penulis dari jerman yang menjadi pengaruh untuk perkembangan intelektuanya. Melalui tangan Hugo Ball, Richad berhasil mempublikasikan beberapa karya tulisannya.

3.      Tristan Tzara
Lahir    : 16 April 1896
Wafat  : 25 Desember 1963
Tristan Tzara adalah seorang penyair yang berasal dari Rumania, selain itu dia aktif juga sebagai wartawan, penulis drama, sastra dan kritikus seni, composer dan sutradara film, dia pun dikenal terbaik untuk menjadi salah satu pendiri dan tokoh sentral dari gerakan Dadaisme, dan dia juga pernah menjadi salah satu “Presiden Dada” pada tahun 1919.
Adapun tokoh – tokoh lain yang berjasa dalam perkembangan aliran seni Dadaisme in yaitu Marcel Duchamo, Raoul Hausmann, Hugo Ball, Salvador Dali, Max Ernest, Marcel Janco, Man Ray, Hans Richter, Kurt Schwitters, dan Sophie Tauber.

Pertunjukan pertama :
Kaum dadaisme pertama kali mempertunjukan karya mereka berupa :
1.      Puisi simultan
Puisi ini sesuai dengan temanya yaitu simultan, yang berarti puisi tersebut dilakukan atau dilangsungkan pada waktu bersamaan atau secara serentak.
2.      Komposisi
3.      Konser bisingan (noise)
4.      Komposisi bisingan asintaksis yang dikemudian hari dijadikan puisi kongkret di Zunfthaus Zur Waag sekitar tahun 1916.
Dan setelah itu banyak serangan polemik yang tertuju pada mereka, terutama dari kaum Ekspresionis, dan disamping itu pergerakan dadaisme menarik beberapa anggota baru seperti Francis Picabia dan Hans Richter untuk bergabung dengan mereka. Para dadaisme tidak saja menampilkan pertunjukan seperti yang sudah disebutkan tadi, melainkan mereka juga membuat buku, pameran dan pestapun mereka buat untuk menghadirkan sebuah cita – cita kebudayaan dan seni serta untuk menghadapi tantangan zaman (Ball dalam Schneede, 1973:12).

Ciri khas Dadaisme
Pada dasarnya Dadasime tidaklah memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap karyanya atau tidak seperti yang dimiliki oleh gerakan – gerakan seni lain yang sangat jelas ciri khas pada karya yang dibuatnya, sedangkan dadaisme dalam proses pembuatannya sering kali diartikan seperti mengeluarkan ide – ide celaan dan kemarahan besar atau disebut juga dengan ungkapan ekspresi dan memasukannya ke dalam karya seni, yang menjadikan Nampak aneh namun hasilnya tersebut menjadi terlihat sangat nyata.

Karakteristik karya
Akibat mekanisasi dan perkembangan teknologi – terutama mesin pembantai dalam perang yang mereka alami, mereka para dadaisme menunjukan rasa protes mereka pada karya – karya mereka yang ditampilkan pada saat itu, jadi karya seni yang mereka tampilkan bersifat :
q  Sinis
karya yang mereka tampilkan bersifat mengejek atau memandang rendah perkembangan politik pada massa itu.
q   Banal
Beberapa sajak atau puisi yang lemah mereka tampilkan, namun disisi lain isi dari puisi itu sangatlah mempunyai makna yang sangat kasar sekali.
q   Nihilistic
Mereka tidak menjadikan dirinya sebagai bagian dari salah satu aliran seni yang sudah ada pada saat itu.
q   Intiutif dan emotif
Karyanya bersifat bebas, sesuka hati, namun memiliki nilai emosional atau
q  Parodik
Kayanya sengaja meniru gaya, kata penulis, atau pencipaan laindengan maksud mencari efek kejenakaan.
q  Aneh
Karyanya seba aneh seperti mengkopi lukisan monalisa tapi di kasih kumis. Tempat kencing di beri judul “dan di pamerkan”.
q   Humorik
Mengandung nilai humor, ini terlihat dari karya – karyanya yang dihasilkan oleh para dadais
q   Anti-kaidah tradisonal
q   Melepaskan diri dari otomatisme berkesenian
q   Bahkan menjadi Anti seni

Karya – Karya Dadaisme
Karya dadaisme meliputi bermacam – macam media atau multi media. Seni adalah cara berekspresi yang tidak dibatasi oleh medium. Karya – karya dadaisme diantaranya yaitu :
1.      Nude Descending a Staircase (Marcel Duchamp)
2.      Die Agypterin (Hans Arp)
3.      La Tentation de Saint Antoine (Salvador Dali)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar